Berita Terkini :
SALAM REDAKSI ,  WELCOME  |   sign in   |   Gueet Book   |   Kontak Kami



Harap tunggu :D
Sponsored By :FORWI.

Healine News

DeaMedia SKU Forum Wartawan Indonesia

Headline News Caver Depan
forwinews.blogspot.com




Email

forwisulsel@yahoo.com

Visitor

Berita Dari Sulsel

Berita Dari Sultra

Berita Dari Sulbar

Kawasan Link Media

Monday, January 2, 2012

Sejarah Majalah


Majalah adalah terbitan yg berisi berbagai liputan jurnalistik dan pandangan tentang topik aktual pembaca. Penerbitan majalah dibedakan atas mingguan, tengah bulanan, bulanan, atau bahkan tahunan. Menurut isinya, majalah dibedakan atas majalah berita, wanita, remaja, olahraga, sastra, ilmu pengetahuan tertentu, dan sebagainya.

Saat ini, penerbitan majalah konvensional (majalah cetak) mulai menghadapi masa sulit akibat meluasnya penggunaan internet. Bagaimanapun, selama bertahun-tahun majalah telah menghadirkan informasi yang berharga dan hiburan kepada para pembacanya. Berikut dapat kita lihat sejarah majalah dalam kemunculannya.

Majalah Berbahasa Inggris Pertama
Majalah berbahasa Inggris pertama adalah The Review, yang diterbitkan di London pada 1704 oleh sastrawan terkemuka Daniel Defoe. The Review berbentuk antara majalah dan surat kabar dan terbit tiga kali dalam seminggu. Selain menjadi pemilik, Defoe juga bertindak sebagai penerbit, editor, serta sekaligus sebagai penulis The Review.

Kemunculan Majalah di Amerika Serikat
Selanjutnya, majalah juga mulai muncul di Amerika. Pada 1740 Benjamin Franklin memelopori penerbitan majalah di Amerika dengan menerbitkan General Magazine dan Historical Chronicle.

Pada 1790, Richard Steele, seorang penulis dan politisi Irlandia, membuat The Tatler. Namun, ia lebih terkenal sebagai pendiri The Spectator bersama Joseph Addison. Isi majalah The Spectator sangat beragam, mulai dari masalah politik, berita internasional, tulisan tentang moralitas, hingga berita hiburan tentang teater dan gosip.

Edisi pertama majalah National Geographic muncul pada Oktober 1888. Majalah ini berisi artikel tentang geografi, ilmu pengetahuan populer, sejarah dunia, budaya, peristiwa terkini, serta foto-foto berbagai tempat dan objek di seluruh dunia dan alam semesta. National Geographic saat ini diterbitkan di berbagai negara dalam 32 bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Sirkulasinya mencapai sembilan juta eksemplar per bulan. Sementara pembacanya mencapai lima puluh juta orang.

Dari markas mereka di Chappaqua, New York, Amerika Serikat, sepasang suami istri, Lila Bell Wallace and DeWitt Wallace, menerbitkan majalah bulanan untuk umum bernama Reader’s Digest pada 1922.

Selama bertahun-tahun, Reader’s Digest menjadi majalah paling laris di Amerika Serikat. Baru pada 2009, tahtanya direbut Better Homes and Gardens. Saat ini sirkulasi Reader’s Digest di seluruh dunia mencapai 17 juta eksemplar. Reader’s Digest dibaca oleh 40 juta orang di 70 negara, dalam 50 edisi dan 21 bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Tahun berikutnya, tepatnya pada 3 Maret 1923, Briton Hadden and Henry Luce menerbitkan Time, majalah berita mingguan pertama di Amerika Serikat. Satu dekade kemudian, muncul majalah berita mingguan lain yang tidak kalah populer, yaitu Newsweek.

Hugh Hefner  menerbitkan majalah Playboy pada 1953. Foto Marilyn Monroe menghiasi sampul edisi perdana majalah bagi pria dewasa tersebut. Playboy mencapai puncak masa kejayaannya pada 1970-an. Saat itu sirkulasinya mencapai enam juta eksemplar.

Perkembangan Terkini
Biaya produksi majalah banyak terserap untuk kertas, pengiriman, dan sirkulasi. Untuk menghemat biaya, saat ini banyak majalah yang sebagian atau seluruhnya terbit secara online.

Menyikapi Tahun baru

Diantara kebiasaan orang dalam memasuki tahun baru di berbagai belahan dunia adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di beberapa tempat diadakan dzikir berjama’ah menyongsong tahun baru. Sebenarnya bagaimana Islam memandang perayaan tahun baru?

Bolehkah Merayakannya?

Redaktur
Tahun baru tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana ‘Idul Fitri, ‘Iedul Adha ataupun hari Jum’at. Bahkan hari tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.

Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan kepadanya: “Apakah disana ada berhala sesembahan orang Jahiliyah?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dirayakannya hari raya mereka?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikan nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam”. (Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan terlarangnya menyembelih untuk Allah di tempat yang bertepatan dengan tempat yang digunakan untuk menyembelih kepada selain Allah, atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Perbuatan ini juga menyerupai perbuatan mereka dan menjadi sarana yang mengantarkan kepada syirik. Apalagi ikut merayakan hari raya mereka, maka di dalamnya terdapat wala’ (loyalitas) dan dukungan dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Akibat paling berbahaya yang timbul karena berwala’ terhadap orang kafir adalah tumbuhnya rasa cinta dan ikatan batin kepada orang-orang kafir sehingga dapat menghapuskan keimanan.

Keburukan yang Ditimbulkan

Seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan tahun baru akan tertimpa banyak keburukan, diantaranya:

    Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.
    Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.
    Ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina, Na’udzubillahi min dzaalika…
    Pemborosan harta kaum muslimin, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli makanan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya baik berupa kemaksiatan bahkan kesyirikan kepada Allah. Wallahu a’lam…

Sunday, January 1, 2012

Hubungan Masyarakat yang Terlupakan

Humas yang saat ini berkembang tiada lain adalah hasil pengembangan praktek-praktek humas di masa lalu. Pentingnya pencitraan ternyata memang sudah ada sedari dulu. Hanya saja kita tidak  menyadarinya. Orang jaman  dahulu sudah menyadari pentingnya peranan humas dalam keberhasilan pencapaian tujuan mereka. Namun, istilahnya yang memang tidak mereka namai.
Humas tumbuh dari kebudayaan masyarakat dalam memperoleh sesuatu. Sesuatu itu bisa berpentuk barang, jasa, nama baik, dan lain sebagainya. Istilah humas (public relation) baru dikenal dalam peradaban manusia di abad 20. Sejarah humas yang terlupakan ini dapat kita lihat dari beberapa peristiwa penting di masa lalu. Peristiwa yang tiada lain merupakan teknik-teknik humas pada masa lalu.
Upacara Penyambutan Nabi Sulaeman
Kedatangan Nabi Sulaeman disambut oleh Ratu Balqis dengan sangat meriah. Penyambutannya begitu megah dan luar biasa. Hal itu dilakukan karena ia mengistimewakan Nabi Sulaeman.
Acara penyambutan ini adalah salah satu praktek humas dalam bidang keprotokoleran, Dalam peristiwa itu ada penyusunan acara dari awal sampai akhir. Ada ceremonial penyambutan, ada pembawa acara, ada panitia-panitia yang dibentuk untuk penyambutan tersebut, dan lain sebagainya.
Ratu Balqis ingin Nabi Sulaeman merasa dihormati. Ia pun menjaga citranya sebagai seorang putri yang kaya raya dan penuh tata krama. Menghargai tamu sama artinya dengan menghargai diri sendiri. Selain itu,hal ini juga dilakukan karena Ia tertarik dengan nabi Sulaeman yang rendah hati, padahal kekayaannya jauh melebihi kekayaannya.
Peristiwa Penyambutan Mark Anthony
Kedatangan Mark Anthony disambut dengan penuh keindahan oleh Cleopatra. Lokasi yang dipilih adalah di tepi sungai Nil. Cleopatra menunjukan keindahan dan kelembutannya sebagai seorang ratu. Ini secara tidak langsung adalah sebuah pencitraan yang Cleopatra lakukan terhadap Mark Anthony.
Ia ingin Pertemuannya berlanjut dengan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Cleopatra sebagai pembeli dan Mark Anthony sebagai penjual barang. Jika kesan pertama buruk, maka kerjasama itu tidak akan terwujud. Oleh karena itu Cleopatra berusaha untuk memeberikan kesan pertama yang memesona Mark Anthony untuk mewujudkan keinginannya.
Praktek Humas di Zaman Gilda
Gilda adalah sekumpulan orang di Eropa yang memiliki mata pencaharian sama, yaitu sebagai pedagang. Pada awalanya mereka berkumpul untuk membuat kelompok  yang memiliki tujuan untuk  membatasi persaingan dari dalam dan menolak persaingan dari luar. Cara yang mereka tempuh adalah dengan meningkatkan produksi barang yang mereka jual dan memperluas pasar.
Mereka melakukan perluasan pasar dengan memberikan informasi kepada khalayak sebanyak-banyaknya mengenai produk yang mereka pasarkan.  Dalam hal ini yang diinformasikan adalah  kualitas produk yang mereka jual serta manfaatnya untuk si pemakai barang. Dengan kata lain keungulan-keunggulan yang dapat memikat hati pembeli.
Ini adalah salah satu praktek humas dalam peranannya sebagai komunikator. Yaitu memberikan informasi kepada khalayak selengkap mungkin akan apa yang mereka pasarkan agar tujuan Gilda tercapai. Dalam hal ini mereka bertujuan mendapatkan pembeli sebanyak mungkin. Tentu saja di sini mereka memberikan informasi yang dapat menarik pembeli saja untuk mencapai tujuannya yaitu keuntungan yang sebesar-

Kewartawanan

Humas yang saat ini berkembang tiada lain adalah hasil pengembangan praktek-praktek humas di masa lalu. Pentingnya pencitraan ternyata memang sudah ada sedari dulu. Hanya saja kita tidak  menyadarinya. Orang jaman  dahulu sudah menyadari pentingnya peranan humas dalam keberhasilan pencapaian tujuan mereka. Namun, istilahnya yang memang tidak mereka namai.
Humas tumbuh dari kebudayaan masyarakat dalam memperoleh sesuatu. Sesuatu itu bisa berpentuk barang, jasa, nama baik, dan lain sebagainya. Istilah humas (public relation) baru dikenal dalam peradaban manusia di abad 20. Sejarah humas yang terlupakan ini dapat kita lihat dari beberapa peristiwa penting di masa lalu. Peristiwa yang tiada lain merupakan teknik-teknik humas pada masa lalu.
Upacara Penyambutan Nabi Sulaeman
Kedatangan Nabi Sulaeman disambut oleh Ratu Balqis dengan sangat meriah. Penyambutannya begitu megah dan luar biasa. Hal itu dilakukan karena ia mengistimewakan Nabi Sulaeman.
Acara penyambutan ini adalah salah satu praktek humas dalam bidang keprotokoleran, Dalam peristiwa itu ada penyusunan acara dari awal sampai akhir. Ada ceremonial penyambutan, ada pembawa acara, ada panitia-panitia yang dibentuk untuk penyambutan tersebut, dan lain sebagainya.
Ratu Balqis ingin Nabi Sulaeman merasa dihormati. Ia pun menjaga citranya sebagai seorang putri yang kaya raya dan penuh tata krama. Menghargai tamu sama artinya dengan menghargai diri sendiri. Selain itu,hal ini juga dilakukan karena Ia tertarik dengan nabi Sulaeman yang rendah hati, padahal kekayaannya jauh melebihi kekayaannya.
Peristiwa Penyambutan Mark Anthony
Kedatangan Mark Anthony disambut dengan penuh keindahan oleh Cleopatra. Lokasi yang dipilih adalah di tepi sungai Nil. Cleopatra menunjukan keindahan dan kelembutannya sebagai seorang ratu. Ini secara tidak langsung adalah sebuah pencitraan yang Cleopatra lakukan terhadap Mark Anthony.
Ia ingin Pertemuannya berlanjut dengan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Cleopatra sebagai pembeli dan Mark Anthony sebagai penjual barang. Jika kesan pertama buruk, maka kerjasama itu tidak akan terwujud. Oleh karena itu Cleopatra berusaha untuk memeberikan kesan pertama yang memesona Mark Anthony untuk mewujudkan keinginannya.
Praktek Humas di Zaman Gilda
Gilda adalah sekumpulan orang di Eropa yang memiliki mata pencaharian sama, yaitu sebagai pedagang. Pada awalanya mereka berkumpul untuk membuat kelompok  yang memiliki tujuan untuk  membatasi persaingan dari dalam dan menolak persaingan dari luar. Cara yang mereka tempuh adalah dengan meningkatkan produksi barang yang mereka jual dan memperluas pasar.
Mereka melakukan perluasan pasar dengan memberikan informasi kepada khalayak sebanyak-banyaknya mengenai produk yang mereka pasarkan.  Dalam hal ini yang diinformasikan adalah  kualitas produk yang mereka jual serta manfaatnya untuk si pemakai barang. Dengan kata lain keungulan-keunggulan yang dapat memikat hati pembeli.
Ini adalah salah satu praktek humas dalam peranannya sebagai komunikator. Yaitu memberikan informasi kepada khalayak selengkap mungkin akan apa yang mereka pasarkan agar tujuan Gilda tercapai. Dalam hal ini mereka bertujuan mendapatkan pembeli sebanyak mungkin. Tentu saja di sini mereka memberikan informasi yang dapat menarik pembeli saja untuk mencapai tujuannya yaitu keuntungan yang sebesar-besarnya.

Sejarah Jurnalistik dan Perkembangannya

Dalam perkembangan jurnalistik, terkait penentuan jurnalis pertama dan kapan kegiatan jurnalistik pertama dilakukan, para ahli senantiasa merujuk pada Romawi masa Julius Caesar (100-44 SM). Jules meneruskan tradisi raja-raja terdahulu untuk menyiarkan kabar mengenai keputusan senat di papan pengumuman, Acta Diurna. Jules berpikir, walaupun kekuasaannya tanpa batas, ia harus mendapatkan inisiasi dari publik Roma.
Istilah Jurnalis
Sejak saat itu, dikenal istilah Jurnalis yang berasal dari kata diurnalis atau mereka yang menjadi juru tulis senat. Padahal, jika para ahli sains percaya adanya agama, perkembangan jurnalistik sudah ada pada masa sebelum Jules. Misalnya, catatan Eumenes, 363 SM. Ia telah membuat kisah orang-orang ternama masa itu, dari Alexander yang agung sampai Aristoteles. Lebih jauh lagi beribu tahun ke belakang adalah masa Nabi Nuh.
Konon, saat banjir besar menghantam bumi atau berakhirnya zaman es, riak jurnalistik sudah terbangun. Nabi Nuh AS membutuhkan kabar yang akurat dan faktual tentang kondisi daratan. Dikirimlah jurnalis dadakan, namun bisa dipercaya karena memiliki kemampuan "radar magnetis" dan otak kecil alat navigasi di hidungnya. Ya, burung merpati.
Si Merpati barangkali pangkatnya seorang reporter investigasi yang diminta mencari tahu kadar kesurutan air. Merpati terbang berkeliling hingga menemukan ranting zaitun yang menyebul di lautan. Ranting itu dipatuk, lantas dibawa sehingga Nabi Nuh mengetahui kabar akurat mengenai surutnya air.
China
Pada perkembangan selanjutnya, tradisi tulisan berlanjut di China. Surat kabar pertama pun lahir, King Pao. Surat kabar yang mengabarkan titah kaisar. Lantas, jurnalis tulis menulis sedikit surat di zaman kegelapan Eropa walaupun mendapat tempat manis di Asia. Pada masa itu, orang Eropa mengandalkan para penyair dari hall ke hall untuk mengabarkan kisah para raja dan pahlawan.
Perkembangan berarti berlangsung pada abad pertengahan. Yakni, hadirnya mesin cetak. Guttenberg (1450), dengan izin Tuhan, benar-benar merevolusi dunia. Kehadiran mesin cetak telah membawa jurnalisme ke titik 100 persen. Kemudian, lahir media massa pertama di Eropa yang tidak ditujukan untuk para raja semata. Yakni, Gazzeta di Venesia.
Sebagaimana umumnya kota Italia yang menganggap raja atau doge sebagai patron, kota dan para pengurusnya bersikap mandiri. Kemandirian informasi di Venesia inilah yang melahirkan Gazzeta.
Amerika
Di Amerika Utara, perkembangan pers mengikuti sejarah unik penjajahan Inggris pada dataran kolonialnya. Orang kolonial Amerika Utara itu, bahkan, memulihkan nama journalism sebagai kegiatan pencarian berita. Sementara di tanah Inggris sendiri, lahir Oxford Gazzete. Nama newspapper mulai digunakan menggantikan Gazzete yang berbau pizza Italia.
Pada masa awal revolusi Industri, masa Descartes usai mencerahkan Eropa dengan filsafat ilmunya, jurnalistik mulai dipandang sebagai ilmu baru di ranah sosial. Karl Bucher dan Max Weber di Universitas Basel Swiss memperkenalkan cabang baru ilmu persuratkabaran, Zeitungkunde pada 1884.
Di Amerika Utara, lahirlah sekolah beken dalam urusan jurnalis, Columbia School of Journalism pada 1912 oleh Joseph Pulitzer. Pada abad ke-20, kepakaran dan profesi semakin mencair. Ilmu dan teori jurnalisme semakin berkembang, kode etik dilahirkan, teknik pemberitaan diperluas. Nama-nama harum, seperti Hunter S. Thompson, Hearst, atau Tom Wolfe, mengembangkan jurnalisme sebagai teknik dan konglomerasi.

Arsip Berita

 

Copyright Forum Wartawan Indonesia / Email: forwisulsel@yahoo.com